Nasionalisme di Tengah Globalisasi dan Modernisasi

Nasionalisme di Tengah Globalisasi dan Modernisasi

Benarkah nasionalisme sedang meluntur seiring arus deras globalisasi yang mengaburkan batas-batas satuan kebudayaan dalam sebuah Negara-bangsa? Benarkah sentimen nasionalisme tidak lagi relevan dengan konteks modernisasi yang meniscayakan kepentingan individu?  Perubahan social telah terjadi, dan sebaiknya disikapi secara tepat. Pelestarian nasionalisme, memerlukan formula tepat pula.

Melestarikan ideologi nasionalisme dari masyarakat multikultur dengan sentimen etnisitas dan ikatan primordial yang masih cukup kuat memang tidak mudah. Ditambah isu kedaerahan yang makin menguat bersamaan derasnya gerakan desentralisasi berbalut jargon kemandirian daerah, pemilukada, makin mendekatkan orang pada isu kelokalan dan menjauhkan pada isu yang dipandang sebagai “urusan nasional”. Nasionalisme, mau tidak mau dipandang sebagai isu berlevel nasional, berurusan dengan keutuhan dan ketahanan negara, dan itu domain pemerintah pusat. Terdapat gejala alienasi (keterasingan) terhadap isu nasionalisme terutama di kalangan generasi muda. Saya tidak yakin jika jiwa nasionalisme telah luntur, hanya terasing dan kurang terstruktur saja, karena perubahan social dan budaya yang terbawa arus globalisasi dan modernisasi.

Nasionalisme Prosedural vs Substansial

Sebenarnya, apakah nasionalisme itu? Apakah seperti selalu menyukai lagu-lagu nasional, hafal nama-nama pahlawan, hafal teks Proklamasi, selalu menggunakan istilah dan bahasa Indonesia, suka lagu Indonesia, anti lagu asing, dsb? Dalam konteks yang agak “modern”, apakah yang selalu bercita rasa Indonesia mulai dari penggunaan nama-nama orang yang dirasa mengindonesia, memakai barang buatan Indonesia, makan makanan asli Indonesia, lebih menyukai si Unyil ketimbang Upin – Ipin, selalu berada di tanah Indonesia, selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya pada setiap acara resmi, gemar   membawa-bawa bendera Merah Putih ke mana-mana termasuk ketika menjadi supporter sepak bola, mengenakan kaos “Garuda di Dadaku” dan selalu berharap tim Indonesia menang serta marah besar ketika timnas kalah, bahkan sangat marah ketika membaca berita wilayah Indonesia masuk peta negara lain kemudian ramai-ramai membuat dukungan di situs jejaring social untuk mencaci-maki negara tetangga? Semangat pembelaan terhadap Indonesia memang kentara pada aksi  tersebut. Lantas kita tengok, pada saat yang bersamaan, kita menyaksikan konflik dan kekerasan social melanda antar kelompok dan etnis, di antara orang Indonesia yang tadi dibela-bela tersebut! Sebut saja misalnya konflik Priok, Ambon, Poso hingga kekerasan pasca pemilukada. Jika nasionalisme dimaknai sebagai “solidaritas sebangsa”, maka nasionalisme hanya muncul ketika menghadapi “common enemy” (“musuh bersama”) seperti dalam kasus klaim budaya dan wilayah antara Indonesia-Malaysia, atau “nasionalisme bola”, setia pada tim kesayangan karena ada “musuh bersama” yakni kesebelasan lawan. Ketika tidak ada “musuh bersama”, nasionalisme tak tampak batang hidungnya, justru yang mengemuka adalah sentimen kelompok. Aksi-aksi yang sepintas tampak seperti aksi nasionalisme, saya namai “nasionalisme procedural”, bersifat mekanis, berbasis satuan kebudayaan (etnis, besar atau kecil), homogenitas, munculnya temporal, cenderung tidak stabil, dasar gerakannya adalah stimulus, menunggu perkara. Nasionalisme substansial, muncul dari sentiment kebersamaan yang melihat substansi solidaritas yang tidak selalu melihat homogenitas sebagai perekat, serta rasa bangga sebagai imaged nation.

Globalisasi dan Modernisasi

Pandangan klasik antropologi sosial mengaitkan nasionalisme dengan dualitas: nasional – lokal, bangsa – etnis, sehingga memunculkan paham-paham negara-bangsa (nation state) dan etnis dalam bahasan nasionalisme. Konsep bangsa digunakan untuk menggambarkan kategori-kategori besar masyarakat (Lewis, 1985). Identitas nasional dihadapkan dengan identitas etnik. Mengikuti pandangan ini, maka nasionalisme diasumsikan berkembang ketika nasion, yang dipandang sebagai satuan kebudayaan yang lebih besar, mendapat porsi lebih ketimbang etnis, satuan kebudayaan yang lebih kecil. Pandangan ini sulit menggambarkan keadaan di mana homogenitas menjadi langka, negara modern yang tidak hanya berisi satu kategori etnik,  batas-batas satuan kebudayaan (nation, etnis) menjadi kabur, dinamika dan mobilitas orang sangat cepat bahkan menembus batas “territorial” satuan kebudayaan kecil (etnis) dan besar (nation). Seringkali orang juga tidak saling mengenal. Masyarakat multicultural juga mengaburkan makna identitas yang sering disanjung sebagai perekat nasionalisme. Lantas, akankah nasionalisme menjadi lekang oleh jaman, tergerus arus globalisasi? Dan bagaimanakah menumbuhkan nasionalisme di kalangan generasi muda dalam konteks ini? Bahasan nasionalisme dalam konteks modernisasi dan perubahan social dalam pusaran arus globalisasi menjadi lebih berarti ketimbang konteks identitas social. Dalam batas satuan kebudayaan yang makin maya, maka nasionalisme lebih tepat dipandang sebagai sebuah sentimen atau gerakan. Sejalan dengan Ernest Gellner (1983), bahwa nasionalisme adalah prinsip politik, maka satuan nasion, harus sejalan dengan satuan politik. Maka, sentiment nasionalis adalah rasa marah yang timbul akibat pelanggaran terhadap prinsip ini. Dan, menurut Gellner, nasionalisme adalah suatu legitimasi politik. Sejalan dengan konteks globalisasi, agaknya gagasan Bennedict Anderson tentang nasionalisme lebih relevan. Anderson mendefinisikan nasion sebagai “an imagined political community” (komunitas politik terbayang). Imagined (terbayang) di sini lebih berarti “orang-orang yang mendefinisikan dirinya sebagai anggota suatu nasion meskipun mereka tidak pernah bertemu dan mengenal bahkan mendengar warga lain, namun dalam pikiran mereka hidup sebuah citra (image) mengenai kesatuan komuni bersama. Jika Gellner memusatkan perhatian pada politik, Anderson memperhatikan sentimen nasional. Ketika nasionalisme dipandang sebagai “kesetiaan primordial dan solidaritas berbasis asal-usul” (berakhir pada pengertian ‘negara’), masih harus berhadapan dengan “anomali nasionalisme” yakni ketika berhadapan dengan modernisasi yang membuat orang cenderung berperilaku individualis, lebih mementingkan diri sendiri sebagai pilihan rasional ketimbang negara.

Bermanfaat Bagi Kepentingan Negara

Kiranya, menyimak perubahan social dan budaya yang telah terjadi, pemahaman nasionalisme tidak lagi relevan jika hanya dikaitkan dengan mendikotomikan nation etnis, di mana kedekatan dengan terminologi nation (lingkup lebih besar) ketimbang etnis (lebih kecil) selalu disebut nasionalisme. Yang disebut “lingkup kecil”, dalam konteks Negara modern, termasuk pula daerah, lokal. Maka, mengikuti pandangan ini, mendahulukan kepentingan lokal (yang lebih dekat) adalah tindakan tidak nasionalis. Ini justru tidak masuk akal. Tanpa meributkan batas-batas satuan kebudayaan, nation – etnis, maka yang lebih bermakna bagi pelestarian nasionalisme di kalangan generasi muda adalah “berbuat demi dan bermanfaat bagi kepentingan negara”, di manapun berada, baik di “satuan kebudayaan” yang kecil, besar bahkan di luar wilayah Negara sekalipun. Inilah nasionalisme substansial, lebih relevan, ketika globalisasi meniadakan batas dan modernisasi mempersempit arena Negara. Selebihnya, biarkan Negara yang mendefinisikan posisinya, masih layakkah dibela, masihkah bisa memberikan rasa bangga, membuat nyaman, menciptakan rasa memiliki seperti sinyalemen Greenfield (Nationalism: Five Roads to Modernity) sehingga masih bisa dirasakan (imagined) keberadaannya. Atau, jangan-jangan, bahasan nasionalisme menjadi tak relevan lagi?

One response to “Nasionalisme di Tengah Globalisasi dan Modernisasi

  1. seperti yang anda katakan diatas nasionalisme hanya akan muncul saat ada “musuh bersama” ini adalah watak asli nasionalisme, inilah sebabnya nasionalisme tidak layak dijadikan alasan untuk mempersatukan berbagai perbedaan berbagai suku bangsa manusia, andai gajah mada saat mempersatukan nusantara dulu menggunakan prinsip nasionalismenya.. pasti beliau tidak akan pernah berhasil mempersatukan nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s